Kamis, 03 Agustus 2017
Cinta yang menahun
Seakan mentari merestui kepergian bulan dengan tenangnya.
Pagi itu sepanjang jalan mohammad kahfi yang dilalui bersama ojek online seolah memberikan penghormatan kepada jiwa-jiwa yang semangat berikhtiar di atas bumiNya.
Mereka yang saat pagi menanam tunas-tunas doa dan tawakal,untuk kemudian dipetik hikmahnya sambil menyambut senja. ahad, 23 juli 2017. sudah hampir 6 tahun yang lalu buncahan niat itu tiba, tapi apa mau dikata, kesibukan duniawi memang membuat terlena, merasa belum siap,itulah jawabannya.
Hingga akhirnya kesiapan itu tiba, rupanya Sang Maha masih ingin menguji sejauh mana niat yang ada. ya.. belum berjodoh dan harus menunggu untuk angkatan selanjutnya. "kira-kira tahun depan." ucap salah seorang pengurus Forum Lingkar Pena Jakarta.
"Halte cawang sutoyo adalah yang terdekat menuju lokasi"
Shafa kembali melihat ponselnya untuk melihat tumpukan chat dari para pengurus dan sesekali mengintip jam tangan mungilnya yang berhenti di 06:45 WiB.
"Akan sampai halte cawang sutoyo mungkin 07:30 wib. Berjalan kaki sebentar dan Aku akan sampai tepat waktu insyaAllah, pukul 08:00 wib"
Gumam shafa dalam hati.
Entah kenapa jalan raya mampang saat itu yang biasanya macet luar biasa karena ada pengerjaan proyek underpass begitu lancar. Shafa kembali membuka ponselnya, lantunan ayat suci yang telah selesai didengarkannya kemudian berganti kepada salah satu lagu Indonesia "kali kedua-Raisa". Jalan raya mampang yang lancar, Ac transjakarta yang dingin dan nyaman rupanya mendukung suasana kala itu. Entah kenapa seketika muncul kenangan-kenangan syahdu yang bergelayut membentuk pola-pola hati berwarna merah jambu.
"Ah.. Syetan memang cepat sekali hinggap jika begini"
Shafa kemudian menutup ponselnya. Memasukannya ke dalam "tas wanita" yang ia pinjam dari kakaknya. Karena hampir semua koleksi tasnya adalah tas ransel. shafa tiba-tiba teringat proyek menulis novelnya yang dari dulu tak rampung-rampung sejak dari dulu kala, sebelum lagu kali kedua-raisa tercipta.
Setibanya di halte transit,shafa sibuk memperhatikan rute menuju cawang sutoyo.
"Mau kemana mbak?"
"E..e.. Saya mau ke cawang sutoyo"
"Nanti silahkan naik ke arah pgc, transit di cawang uki, dan naik ke arah tanjung priok. Nanti bisa turun di cawang sutoyo"
"Terimakasih, mas"
Senang sekaligus kaget sebenarnya, seketika wajah shafa merona sumringah namun tertutup oleh masker polkadotnya.
Dengan cermat shafa memperhatikan halte demi halte.
"Mbak.. Nanti tunggu aku ya di cawang sutoyo, kita bareng"
Salah satu chat whatsapp dari salah satu peserta SG, devi."
"Siap, insyaAllah"
Setibanya di halte cawang sutoyo,waktu telah menunjukan pukul 07:28, sesuai perkiraan shafa. Ia kembali memutar murottal dari ponselnya sambil menunggu peserta lain yang ingin bareng bersamanya. Shafa kembali melihat ponselnya, sufah pukul 07:45. Tiba-tiba devi mengabarinya "mbak, ternyata lokasi acara dekat halte cawang otista, bukan cawang sutoyo"
"Maksudnya bagaimana?"
"Iya mbak, aku juga sudah sampai halte cawang sutoyo tadi, tapi mbak nisa mengabariku kalo lokasi dekat dengan cawang otista. Dari cawang sutoyo,mbak naik Transjakarta lagi ke arah cawang uki. Transit ke arah kampung melayu.turun di halte cawang otista, aku juga masih di jalan mbak." ujar devi.
Shafa seketika mengerutkan dahi. "itu tadi jalan yang aku lewati, cawang uki kan tempat aku transit." Ia kembali membuka chat informasi rute dari salah seorang panitia SG. "Hmm ini benar kok turun di halte cawang sutoyo,lalu tinggal jalan sebentar". shafa tak kehabisan cara, ia mendatangi petugas loket transjakarta, "mbak apakah di sini ada mesjid Abu bakar as shiddiq?"
"Wah maaf mbak, dekat sini tidak ada mesjid" ujar salah seorang petugas berjilbab hitam.
Shafa mulai kebingungan, ia pun mencari jalan pintas. "baiklah kalo begitu aku pesan gojek saja." Shafa pun memasukan rute dari tempat ia berada. Tak lama rider pun menghubunginya.
"Posisi dimana mbak?"
"Saya di halte cawang sutoyo"
"Loh, ini kok rute mbak ada di cawang uki?"
Shafa kembali kebingungan.
"Bapak bisa menghampiri saya? Bapak tau lokasi saya?"
"Baik mba akan saya coba. Mohon ditunggu"
Sedikit ada angin segar yang menghampiri shafa. Waktu sudah pukul 8:15, bapak rider belum juga tiba. Disaat yang bersamaan, shafa memperhatikan 2 orang yang juga nampaknya sedang kebingungan. Ponsel shafa pun berdering. Dari bapak rider. "Halo mbak, saya sepertinya harus muter jauh untuk bisa sampai ke lokasi mbak. Tapi saya juga bingung mau muter lewat mana, ditunggu ya mbak."
Mungkin sudah hampir tiga kali bapak rider itu terus menelfon,tapi ia tak kunjung tiba. Ada rasa ingin menekan "cancel" cuma shafa tidak tega. "Hmmm sudah berapa rupiah pulsa bapak itu habis untuk menelfon.rasanya aku tidak tega untuk membatalkan" gumam shafa dalam hati.
Ia pun memberanikan diri menegur dua orang yang kebingungan tadi. "Apa jangan-jangan mereka juga peserta SG?, ah aku tanya sajalah"
Shafa pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Iya, kami peserta SG" sahut laila dan syahrul. Seketika wajah shafa merah merona. Akhirnya ia menemukan teman yang juga sama-sama kebingungan.
"Mbak, benar kan, mbak harus ke cawang otista, karena halte terdekat adalah cawang otista, aku sudah sampai." chat devi benar-benar membawa angin segar untuk shafa, laila dan syahrul.
Terakhir, shafa pun mencoba memastikan sekali lagi, ia kembali mengirim pesan kepada panitia, "sebenarnya halte terdekat dengan lokasi acara adalah cawang sutoyo, atau cawang otista?"
"Wahh maaf mbak, yang benar adalah cawang otista, dari dulu saya suka bingung dengan kedua halte itu, mohin dimaafkan."
Ujar salah seorang panitia. "Hhmm... " lirih shafa dalam hati. meski begitu tidak menjadi hambatan berarti untuk shafa tetap melanjutkan perjalanan. Kesempatan yang sedari dulu ia impikan. tepat pukul 8:30 shafa, laila dan syahrul mengikuti rute yang diberi tahu devi. ponsel shafa kembali berdering "mbak, maaf saya gak bisa menemukan lokasi mbak. Kalo begitu mbak cancel saya saja, tidak apa-apa" shafa spontan kaget, ia teringat bahwa ia memang telah memesan gojek. "Pak,saya akan naik transjakarta saja ke lokasi,tapi bapak gak perlu saya cancel. Bapak pick up saja,biar tarifnya tetap jalan"
"Loh mbak, tapi gak bisa begitu. Mbak kan gak jadi penumpang saya, tapi mbak malah bayar"
"Saya serius pak tidak apa-apa"
"Wah mbak terimakasih ya mbak,saya mohon maaf"
"Iya pak"
Akhirnya tepat pukul 09:00 shafa, laila dan syahrul sampai ke lokasi.
Atmosfir yang sedari dulu shafa rindukan begitu terasa. Semangat yang dari dulu belum terealisasikan itu kian menari-nari di atas kepalanya. Meski sebelumnya sedikit lelah dibuat kebingungan dengan sebuah nama halte.
Ponsel shafa pun kembali berdering..
"Mbak, ikhlas kan ya? Terimakasih banyak mbak, terimakasih. Saya ambil ya tarifnya. Mbak ikhlas ya?"
"Saya ikhlas pak."
Setidaknya, itu sebab yang membuat shafa kembali tersenyum di ahad pagi.
To be continue..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Nice😊..semangat nulis terus mb siska✊
BalasHapusTerimakasih mbak... Kita sama-sama semangat.. :)
Hapusbagus Mba Siska. mungkin nanti kalo ada kata2 asing bisa dicetak miring ya, dan nama seseorang awalnya harus kapital. semangat terus Mba Siska ^^
BalasHapusSiap... Iya bener juga. Kadang kalo udah nulis suka lupa sama hal begituan. Terimakasih mbak :) semangat buat kita.. :)
Hapus