Terkadang, bukan karena kita tidak punya lawan bicara untuk
mencurahkan apa yang ingin kita utarakan. Tapi melainkan rasanya semua itu
hanya perlu dituliskan dalam deretan kata-kata.
Beberapa bulan terakhir kehidupanku dimasuki oleh hal-hal
yang membuatku tertegun. Dan semua itu adalah nyata. Untuk kesekian kali aku
diberi kepercayaan untuk menjadi seorang pengajar. Entah apa yang ada dalam
diriku hingga predikat pengajar cocok untukku. Ku akui aku serba tidak sabaran,
tegas terkesan galak, dan sifat-sifat lain yang mungkin identik tidak
seharusnya ada dalam sosok seorang pengajar. Entah apa sebabnya. Atau mungkin
ada yang bisa orang lain lihat dari diriku yang bahkan aku sendiri tidak bisa
melihatnya? Aku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang guru atau pengajar. Tapi
aku sangat senang jika melakukannya. Yaa... beberapa bulan terakhir aku
mengajar seorang siswi “berkebutuhan khusus”. Sekilas nampak sama, nampak
normal di hadapanku. Namun sewaktu-waktu aku juga tersadar dan harus memperlakukannya
sebagai anak “yang khusus”... ohh Allah....beginikah rasanya?
Sering kali kehidupan membuatku berangan-angan,
mengejar-ngejar, gelisah, mempermasalahkan sesuatu, sedangkan yang ada
dihadapanku?
Aku seringkali merasa rasional, serba tahu, serba mampu
memahami. Tapi saat aku mencoba memasuki dunianya, aku ibarat manusia yang
bodoh, tidak pernah tau apa-apa. Entah apa penjelasan medisnya, entah apa
sebutannya, entah dimana akar “pembeda” dengan manusia normal lainnya, aku
tidak pernah tau mengapa dan bagaimana anak didikku bisa seperti itu. Tapi tetap
hati kecilku menolak untuk menyebutnya sebagai anak autis. Secara fisik
terlihat sama, tidak ada yang berbeda. Tapi saat aku memasuki dunianya, yaa
Allah... adalah semua ini melainkan kuasaMu..kehendakMu..seringkali aku merasa
tertampar akan kehidupan yang seringkali aku keluhkan. Seringkali aku bersikap
riya’ atas segala yang telah aku dapatkan.
Rasanya sedikit ilmu yang bisa ku beri kepadanya, melainkan
aku yang begitu banyak belajar darinya. Ia cerdas..tidak begitu susah
memberikan pemahaman materi yang aku ajarkan kepadanya. Namun, ada hal-hal yang
sangat membuat hatiku miris. Ia memiliki kakak laki-laki. Mereka hanya dua
bersaudara, Orangtua yang pekerja keras (tiap hari bekerja), dan harta yang
berlimpah. Berbicara harta yang berlimpah, bukankah itu harapan semua orang? Tapi...hatiku
sangat miris melihatnya. Setelah sekian lama aku menjadi guru privat siswi itu,
aku baru mengetahui bahwa kakak laki-lakinya juga ternyata sama seperti dia. “berkebutuhan
khusus”. Dirumahnya, beberapa kali aku sering melihat kakak-laki-lakinya yang
hanya 3 tahun lebih tua dari anak didikku. Sekilas...aku berpandangan bahwa ia
adalah anak normal. Kami saling memberi senyum. Dan aku bersyukur, meskipun
orangtua mereka yang jarang ada di rumah, setidaknya anak didikku memiliki
abang yang normal yang mampu membimbing anak didikku, yang mampu menemaninya,
dan mengajarkan hal-hal baik kepada anak didikku. Tapi ternyata...aku
mendapatkan banyak informasi dari salah satu pembantu dirumahnya, bahwa mereka
berdua “sama”. Ya Allah.... rasanya entah apa yang aku rasakan saat itu. Kalian
tahu, secara fisik mereka sama dengan kita. Tidak ada yang berbeda. Cantik dan
tampan. Secara fisik sempurna. Namun setelah aku mengenal mereka, mencoba
melihat lebih dekat kepada mereka, mereka anak-anak yang khusus. Entah harus
bagaimana aku menjelaskan. Tapi tentu kita paham akan orang-orang yang memiliki
keterbelakangan mental seperti apa. Contohnya kita yang mengaku “normal”, untuk
hal-hal yang umum tentu kita sudah tau dan mampu bersikap bagaimana kita
seharusnya dan mampu membedakan mana yang baik dan yang tidak. Tapi berbeda
dengan mereka. Mereka butuh bimbingan setiap saat dan untuk setiap hal. Walaupun
mereka memiliki keterbelakangan mental,namun bukankah siklus perkembangan fisik
mereka sama dengan kita? Semenjak kita kanak-kanak hingga remaja banyak
proses-proses yang kita lewati. Dan itu juga yang mereka alami. Perubahan bentuk
fisik dan hal-hal lain yang menandakan bahwa mereka sudah sampai pada fase
remaja bagi perempuan dan laki-laki. Bukankah pada saat-saat sperti itu mereka
butuh bimbingan? Butuh orang-orang yang mampu mendampingi dan mampu memberikan
pemahaman? Tapi hal itu yang tidak mereka dapatkan secara langsung dari kedua
orangtua mereka. Entah bagaimana aku harus menjelaskannya.
Sebagai orang yang telah masuk ke dalam kehidupan anak
didikku dan sedikit banyak aku mengetahui kondisinya dan keluarganya, aku hanya
berharap bahwa kelak mereka akan berada di tangan yang tepat. Ada rasa iba yang
aku rasakan saat melihat kondisi mereka. Tapi dibalik itu semua, mereka selalu
menampakkan senyuman. Rasa syukur mereka terlihat. Ku tahu, jika mereka bisa
memilih, mereka tidak akan mau menjadi manusia yang memiliki keterbelakangan
mental. Dan semua itu berkali-kali membuatku tertegun. Apa aku pantas untuk
menjadi seorang yang selalu mengeluh? Satu hal besar yang menajdi pelajaran
dalam hidupku, bahwa pada saat kita menjadi pengajar, saat itulah kita
sedang belajar yang sesungguhnya.
Mungkin hal ini bisa kita jadikan “pemanasan” untuk kelak kita
menjadi seorang ibu, seorang ibu yang nantinya akan melahirkan manusia-manusia
baru. Anak-anak itu tidak rumit. Karena tergantung pada dari mana sudut pandang
kita melihat dan bersikap.
Untuk semua yang pernah menjadi murid-muridku, i love you
cause Allah. Terimakasih atas pengajaran yang kalian berikan. Jadilah manusia
yang bermanfaat.!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar