Jumat, 23 Mei 2014

"Special Need"

Terkadang, bukan karena kita tidak punya lawan bicara untuk mencurahkan apa yang ingin kita utarakan. Tapi melainkan rasanya semua itu hanya perlu dituliskan dalam deretan kata-kata.
Beberapa bulan terakhir kehidupanku dimasuki oleh hal-hal yang membuatku tertegun. Dan semua itu adalah nyata. Untuk kesekian kali aku diberi kepercayaan untuk menjadi seorang pengajar. Entah apa yang ada dalam diriku hingga predikat pengajar cocok untukku. Ku akui aku serba tidak sabaran, tegas terkesan galak, dan sifat-sifat lain yang mungkin identik tidak seharusnya ada dalam sosok seorang pengajar. Entah apa sebabnya. Atau mungkin ada yang bisa orang lain lihat dari diriku yang bahkan aku sendiri tidak bisa melihatnya? Aku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang guru atau pengajar. Tapi aku sangat senang jika melakukannya. Yaa... beberapa bulan terakhir aku mengajar seorang siswi “berkebutuhan khusus”. Sekilas nampak sama, nampak normal di hadapanku. Namun sewaktu-waktu aku juga tersadar dan harus memperlakukannya sebagai anak “yang khusus”... ohh Allah....beginikah rasanya?
Sering kali kehidupan membuatku berangan-angan, mengejar-ngejar, gelisah, mempermasalahkan sesuatu, sedangkan yang ada dihadapanku?
Aku seringkali merasa rasional, serba tahu, serba mampu memahami. Tapi saat aku mencoba memasuki dunianya, aku ibarat manusia yang bodoh, tidak pernah tau apa-apa. Entah apa penjelasan medisnya, entah apa sebutannya, entah dimana akar “pembeda” dengan manusia normal lainnya, aku tidak pernah tau mengapa dan bagaimana anak didikku bisa seperti itu. Tapi tetap hati kecilku menolak untuk menyebutnya sebagai anak autis. Secara fisik terlihat sama, tidak ada yang berbeda. Tapi saat aku memasuki dunianya, yaa Allah... adalah semua ini melainkan kuasaMu..kehendakMu..seringkali aku merasa tertampar akan kehidupan yang seringkali aku keluhkan. Seringkali aku bersikap riya’ atas segala yang telah aku dapatkan.
Rasanya sedikit ilmu yang bisa ku beri kepadanya, melainkan aku yang begitu banyak belajar darinya. Ia cerdas..tidak begitu susah memberikan pemahaman materi yang aku ajarkan kepadanya. Namun, ada hal-hal yang sangat membuat hatiku miris. Ia memiliki kakak laki-laki. Mereka hanya dua bersaudara, Orangtua yang pekerja keras (tiap hari bekerja), dan harta yang berlimpah. Berbicara harta yang berlimpah, bukankah itu harapan semua orang? Tapi...hatiku sangat miris melihatnya. Setelah sekian lama aku menjadi guru privat siswi itu, aku baru mengetahui bahwa kakak laki-lakinya juga ternyata sama seperti dia. “berkebutuhan khusus”. Dirumahnya, beberapa kali aku sering melihat kakak-laki-lakinya yang hanya 3 tahun lebih tua dari anak didikku. Sekilas...aku berpandangan bahwa ia adalah anak normal. Kami saling memberi senyum. Dan aku bersyukur, meskipun orangtua mereka yang jarang ada di rumah, setidaknya anak didikku memiliki abang yang normal yang mampu membimbing anak didikku, yang mampu menemaninya, dan mengajarkan hal-hal baik kepada anak didikku. Tapi ternyata...aku mendapatkan banyak informasi dari salah satu pembantu dirumahnya, bahwa mereka berdua “sama”. Ya Allah.... rasanya entah apa yang aku rasakan saat itu. Kalian tahu, secara fisik mereka sama dengan kita. Tidak ada yang berbeda. Cantik dan tampan. Secara fisik sempurna. Namun setelah aku mengenal mereka, mencoba melihat lebih dekat kepada mereka, mereka anak-anak yang khusus. Entah harus bagaimana aku menjelaskan. Tapi tentu kita paham akan orang-orang yang memiliki keterbelakangan mental seperti apa. Contohnya kita yang mengaku “normal”, untuk hal-hal yang umum tentu kita sudah tau dan mampu bersikap bagaimana kita seharusnya dan mampu membedakan mana yang baik dan yang tidak. Tapi berbeda dengan mereka. Mereka butuh bimbingan setiap saat dan untuk setiap hal. Walaupun mereka memiliki keterbelakangan mental,namun bukankah siklus perkembangan fisik mereka sama dengan kita? Semenjak kita kanak-kanak hingga remaja banyak proses-proses yang kita lewati. Dan itu juga yang mereka alami. Perubahan bentuk fisik dan hal-hal lain yang menandakan bahwa mereka sudah sampai pada fase remaja bagi perempuan dan laki-laki. Bukankah pada saat-saat sperti itu mereka butuh bimbingan? Butuh orang-orang yang mampu mendampingi dan mampu memberikan pemahaman? Tapi hal itu yang tidak mereka dapatkan secara langsung dari kedua orangtua mereka. Entah bagaimana aku harus menjelaskannya.
Sebagai orang yang telah masuk ke dalam kehidupan anak didikku dan sedikit banyak aku mengetahui kondisinya dan keluarganya, aku hanya berharap bahwa kelak mereka akan berada di tangan yang tepat. Ada rasa iba yang aku rasakan saat melihat kondisi mereka. Tapi dibalik itu semua, mereka selalu menampakkan senyuman. Rasa syukur mereka terlihat. Ku tahu, jika mereka bisa memilih, mereka tidak akan mau menjadi manusia yang memiliki keterbelakangan mental. Dan semua itu berkali-kali membuatku tertegun. Apa aku pantas untuk menjadi seorang yang selalu mengeluh? Satu hal besar yang menajdi pelajaran dalam hidupku, bahwa pada saat kita menjadi pengajar, saat itulah kita sedang belajar yang sesungguhnya.
Mungkin hal ini bisa kita jadikan “pemanasan” untuk kelak kita menjadi seorang ibu, seorang ibu yang nantinya akan melahirkan manusia-manusia baru. Anak-anak itu tidak rumit. Karena tergantung pada dari mana sudut pandang kita melihat dan bersikap.

Untuk semua yang pernah menjadi murid-muridku, i love you cause Allah. Terimakasih atas pengajaran yang kalian berikan. Jadilah manusia yang bermanfaat.!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar