Ini hanyalah segelintir pengalaman mengajar saya dengan
seorang murid yang baru menginjak kelas 2 Sekolah Dasar. Dibalik wajah imut dan
polosnya tersimpan kesedihan mendalam yang ternyata telah mempengaruhinya
untuk tidak menjadi siswa yang pintar.
“kenapa kok nashwa ga mau jadi anak pintar?”
Dengan polosnya nashwa menjawab “aku ga mau sekolah, aku mau
main aja.. aku ga mau ketemu sabrina lagi, sabrina nakal”
Di sekolah,, nashwa bercerita ia sering kali dibilang bodoh
oleh temannya itu dan juga disuruh-suruh. Saat saya berkata “nashwa pinter ko,
kalo disuruh-suruh jangan mau,kan sama-sama punya kaki” tapi justru anak polos
itu menjawab “gak papa..aku seneng ko bantuin dia”
kelas 2 SD? Bukankah
masa-masa itu lagi unyuk-unyuk nya? Belajar, Bermain,Bebas berekspresi ? kenapa justru di usia itu harus
sudah ada hal-hal yang membuat seorang anak tertekan secara psikis?
Seringkali kita mendengar istilah bullying terutama di
sekolah, lalu apa sebenarnya bullying itu? Definisi bullying sendiri menurut
Andrew Mellor seorang Psikolog dari University of Edinburgh Inggris, terjadi
ketika sesorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain dan dia takut apabila
perilaku buruk tersebut terulang lagi dan merasa tak berdaya untuk mencegahnya.
Bullying merupakan perilaku tidak senonoh yang diarahkan kepada orang yang
dianggap lebih lemah dan perilaku bullying ini bisa secara tindakan
fisik,verbal bahkan secara psikologis. Bullying secara fisik bisa berupa
menjewer,mencubit,memukul,menyuruh lari,menendang,menonjok dsb. Bullying secara
verbal berupa mencemooh, menuduh/menyalahkan,menghina dan sebagainya, sedangkan
bullying secara psikologis hampir tidak beda jauh dengan bullying secara verbal
namun dalam hal ini bisa berupa ekspresi
muka yang merendahkan , kasar/tidak sopan bahkan mempermalukan seseorang
dihadapan umum.
Menurut Profesor Psikolog dari Kanada, Debra Pepler dan
Wendy Craig mengidentifikasi beberapa faktor Internal dan Eksternal yang
terkait dengan korban bullying ini. Secara internal mereka berpendapat bahwa
anak yang menjadi korban bullying biasanya memiliki tempramen pencemas,
cenderung tidak menyukai situasi sosial atau memiliki karakteristik fisik
khusus yang tidak terdapat pada anak-anak lainnya seperti warna kulit atau
rambut yang berbeda atau kelainan fisik lainnya. Sedangkan faktor eksternalnya
profesor psikolog tersebut berpendapat
si korban bullying pada umumnya berasal dari keluarga yang overprotektif,
sedang mengalami masalah keluarga yang berat dan berasal dari strata
ekonomi/kelompok sosial yang terpinggirkan atau dipandang negatif oleh
lingkungan.
Dan menurut saya pribadi dalam menangani anak-anak pelaku
bullying adalah melakukan intervensi dengan
menasihati si pelaku bullying melalui pendidikan karakter. Pun halnya menangani
korban bullying khususnya dalam kasus nashwa yang sering diperolok-olok bodoh
oleh temannya adalah dengan cara terus
memberikan motivasi dan penjelasan yang mudah diterimanya agar tidak ada lagi
rasa takut&sedih apalagi sampai berujung trauma hingga tidak mau lagi
melanjutkan sekolah. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memberi
pemahaman yang baik bahwa apa yang dikatakan oleh teman-temannya itu adalah
tidak benar dan ia harus membuktikan kepintarannya dengan terus rajin belajar
dan semangat. Inilah yang menjadi kewajiban kepada seluruh orang tua dan para
pengajar.
Bukankah anak-anak selalu ingin di dengar?dengarlah setiap
keluh kesah,pendapat dan impian-impian anak didik kita, mendengar namun bukan
selalu menturuti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar