Senin, 18 Februari 2013

Bullying dan Muridku... bernama Nashwa...

Ini hanyalah segelintir pengalaman mengajar saya dengan seorang murid yang baru menginjak kelas 2 Sekolah Dasar. Dibalik wajah imut dan polosnya tersimpan kesedihan mendalam yang ternyata telah mempengaruhinya untuk  tidak menjadi siswa yang pintar.
“kenapa kok nashwa ga mau jadi anak pintar?”
Dengan polosnya nashwa menjawab “aku ga mau sekolah, aku mau main aja.. aku ga mau ketemu sabrina lagi, sabrina nakal”
Di sekolah,, nashwa bercerita ia sering kali dibilang bodoh oleh temannya itu dan juga disuruh-suruh. Saat saya berkata “nashwa pinter ko, kalo disuruh-suruh jangan mau,kan sama-sama punya kaki” tapi justru anak polos itu menjawab “gak papa..aku seneng ko bantuin dia”
 kelas 2 SD? Bukankah masa-masa itu lagi unyuk-unyuk nya? Belajar, Bermain,Bebas  berekspresi ? kenapa justru di usia itu harus sudah ada hal-hal yang membuat seorang anak tertekan secara psikis?
Seringkali kita mendengar istilah bullying terutama di sekolah, lalu apa sebenarnya bullying itu? Definisi bullying sendiri menurut Andrew Mellor seorang Psikolog dari University of Edinburgh Inggris, terjadi ketika sesorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain dan dia takut apabila perilaku buruk tersebut terulang lagi dan merasa tak berdaya untuk mencegahnya. Bullying merupakan perilaku tidak senonoh yang diarahkan kepada orang yang dianggap lebih lemah dan perilaku bullying ini bisa secara tindakan fisik,verbal bahkan secara psikologis. Bullying secara fisik bisa berupa menjewer,mencubit,memukul,menyuruh lari,menendang,menonjok dsb. Bullying secara verbal berupa mencemooh, menuduh/menyalahkan,menghina dan sebagainya, sedangkan bullying secara psikologis hampir tidak beda jauh dengan bullying secara verbal namun  dalam hal ini bisa berupa ekspresi muka yang merendahkan , kasar/tidak sopan bahkan mempermalukan seseorang dihadapan umum.
Menurut Profesor Psikolog dari Kanada, Debra Pepler dan Wendy Craig mengidentifikasi beberapa faktor Internal dan Eksternal yang terkait dengan korban bullying ini. Secara internal mereka berpendapat bahwa anak yang menjadi korban bullying biasanya memiliki tempramen pencemas, cenderung tidak menyukai situasi sosial atau memiliki karakteristik fisik khusus yang tidak terdapat pada anak-anak lainnya seperti warna kulit atau rambut yang berbeda atau kelainan fisik lainnya. Sedangkan faktor eksternalnya profesor  psikolog tersebut berpendapat si korban bullying pada umumnya berasal dari keluarga yang overprotektif, sedang mengalami masalah keluarga yang berat dan berasal dari strata ekonomi/kelompok sosial yang terpinggirkan atau dipandang negatif oleh lingkungan.
Dan menurut saya pribadi dalam menangani anak-anak pelaku bullying adalah  melakukan intervensi dengan menasihati si pelaku bullying melalui pendidikan karakter. Pun halnya menangani korban bullying khususnya dalam kasus nashwa yang sering diperolok-olok bodoh oleh temannya adalah  dengan cara terus memberikan motivasi dan penjelasan yang mudah diterimanya agar tidak ada lagi rasa takut&sedih apalagi sampai berujung trauma hingga tidak mau lagi melanjutkan sekolah. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memberi pemahaman yang baik bahwa apa yang dikatakan oleh teman-temannya itu adalah tidak benar dan ia harus membuktikan kepintarannya dengan terus rajin belajar dan semangat. Inilah yang menjadi kewajiban kepada seluruh orang tua dan para pengajar.
Bukankah anak-anak selalu ingin di dengar?dengarlah setiap keluh kesah,pendapat dan impian-impian anak didik kita, mendengar namun bukan selalu menturuti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar