Kamis, 03 Agustus 2017

Cinta yang menahun



Seakan mentari merestui kepergian bulan dengan tenangnya.
Pagi itu sepanjang jalan mohammad kahfi yang dilalui bersama ojek online seolah memberikan penghormatan kepada jiwa-jiwa yang semangat berikhtiar di atas bumiNya.
Mereka yang saat pagi menanam tunas-tunas doa dan tawakal,untuk kemudian dipetik hikmahnya sambil menyambut senja. ahad, 23 juli 2017. sudah hampir 6 tahun yang lalu buncahan niat itu tiba, tapi apa mau dikata, kesibukan duniawi memang membuat terlena, merasa belum siap,itulah jawabannya.
Hingga akhirnya kesiapan itu tiba, rupanya Sang Maha masih ingin menguji sejauh mana niat yang ada. ya.. belum berjodoh dan harus menunggu untuk angkatan selanjutnya. "kira-kira tahun depan." ucap salah seorang pengurus Forum Lingkar Pena Jakarta.
"Halte cawang sutoyo adalah yang terdekat menuju lokasi"
Shafa kembali melihat ponselnya untuk melihat tumpukan chat dari para pengurus dan sesekali mengintip jam tangan mungilnya yang berhenti di 06:45 WiB.
"Akan sampai halte cawang sutoyo mungkin 07:30 wib. Berjalan kaki sebentar dan Aku akan sampai tepat waktu insyaAllah, pukul 08:00 wib"
Gumam shafa dalam hati.
Entah kenapa jalan raya mampang saat itu yang biasanya macet luar biasa karena ada pengerjaan proyek underpass begitu lancar. Shafa kembali membuka ponselnya, lantunan ayat suci yang telah selesai didengarkannya kemudian berganti kepada salah satu lagu Indonesia "kali kedua-Raisa". Jalan raya mampang yang lancar, Ac transjakarta yang dingin dan nyaman rupanya mendukung suasana kala itu. Entah kenapa seketika muncul kenangan-kenangan syahdu yang bergelayut membentuk pola-pola hati berwarna merah jambu.
"Ah.. Syetan memang cepat sekali hinggap jika begini"
Shafa kemudian menutup ponselnya. Memasukannya ke dalam "tas wanita" yang ia pinjam dari kakaknya. Karena hampir semua koleksi tasnya adalah tas ransel. shafa tiba-tiba teringat proyek menulis novelnya yang dari dulu tak rampung-rampung sejak dari dulu kala, sebelum lagu kali kedua-raisa tercipta.
Setibanya di halte transit,shafa sibuk memperhatikan rute menuju cawang sutoyo.
"Mau kemana mbak?"
"E..e.. Saya mau ke cawang sutoyo"
"Nanti silahkan naik ke arah pgc, transit di cawang uki, dan naik ke arah tanjung priok. Nanti bisa turun di cawang sutoyo"
"Terimakasih, mas"
Senang sekaligus kaget sebenarnya, seketika wajah shafa merona sumringah namun tertutup oleh masker polkadotnya.
Dengan cermat shafa memperhatikan halte demi halte.
"Mbak.. Nanti tunggu aku ya di cawang sutoyo, kita bareng"
Salah satu chat whatsapp dari salah satu peserta SG, devi."
"Siap, insyaAllah"
Setibanya di halte cawang sutoyo,waktu telah menunjukan pukul 07:28, sesuai perkiraan shafa. Ia kembali memutar murottal dari ponselnya sambil menunggu peserta lain yang ingin bareng bersamanya. Shafa kembali melihat ponselnya, sufah pukul 07:45. Tiba-tiba devi mengabarinya "mbak, ternyata lokasi acara dekat halte cawang otista, bukan cawang sutoyo"
"Maksudnya bagaimana?"
"Iya mbak, aku juga sudah sampai halte cawang sutoyo tadi, tapi mbak nisa mengabariku kalo lokasi dekat dengan cawang otista. Dari cawang sutoyo,mbak naik Transjakarta lagi ke arah cawang uki. Transit ke arah kampung melayu.turun di halte cawang otista, aku juga masih di jalan mbak." ujar devi.
Shafa seketika mengerutkan dahi. "itu tadi jalan yang aku lewati, cawang uki kan tempat aku transit." Ia kembali membuka chat informasi rute dari salah seorang panitia SG. "Hmm ini benar kok turun di halte cawang sutoyo,lalu tinggal jalan sebentar". shafa tak kehabisan cara, ia mendatangi petugas loket transjakarta, "mbak apakah di sini ada mesjid Abu bakar as shiddiq?"
"Wah maaf mbak, dekat sini tidak ada mesjid" ujar salah seorang petugas berjilbab hitam.
Shafa mulai kebingungan, ia pun mencari jalan pintas. "baiklah kalo begitu aku pesan gojek saja." Shafa pun memasukan rute dari tempat ia berada. Tak lama rider pun menghubunginya.
"Posisi dimana mbak?"
"Saya di halte cawang sutoyo"
"Loh, ini kok rute mbak ada di cawang uki?"
Shafa kembali kebingungan.
"Bapak bisa menghampiri saya? Bapak tau lokasi saya?"
"Baik mba akan saya coba. Mohon ditunggu"
Sedikit ada angin segar yang menghampiri shafa. Waktu sudah pukul 8:15, bapak rider belum juga tiba. Disaat yang bersamaan, shafa memperhatikan 2 orang yang juga nampaknya sedang kebingungan. Ponsel shafa pun berdering. Dari bapak rider. "Halo mbak, saya sepertinya harus muter jauh untuk bisa sampai ke lokasi mbak. Tapi saya juga bingung mau muter lewat mana, ditunggu ya mbak."
Mungkin sudah hampir tiga kali bapak rider itu terus menelfon,tapi ia tak kunjung tiba. Ada rasa ingin menekan "cancel" cuma shafa tidak tega. "Hmmm sudah berapa rupiah pulsa bapak itu habis untuk menelfon.rasanya aku tidak tega untuk membatalkan" gumam shafa dalam hati.
Ia pun memberanikan diri menegur dua orang yang kebingungan tadi. "Apa jangan-jangan mereka juga peserta SG?, ah aku tanya sajalah"
Shafa pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Iya, kami peserta SG" sahut laila dan syahrul. Seketika wajah shafa merah merona. Akhirnya ia menemukan teman yang juga sama-sama kebingungan.
"Mbak, benar kan, mbak harus ke cawang otista, karena halte terdekat adalah cawang otista, aku sudah sampai." chat devi benar-benar membawa angin segar untuk shafa, laila dan syahrul.
Terakhir, shafa pun mencoba memastikan sekali lagi, ia kembali mengirim pesan kepada panitia, "sebenarnya halte terdekat dengan lokasi acara adalah cawang sutoyo, atau cawang otista?"
"Wahh maaf mbak, yang benar adalah cawang otista, dari dulu saya suka bingung dengan kedua halte itu, mohin dimaafkan."
Ujar salah seorang panitia. "Hhmm... " lirih shafa dalam hati. meski begitu tidak menjadi hambatan berarti untuk shafa tetap melanjutkan perjalanan. Kesempatan yang sedari dulu ia impikan. tepat pukul 8:30 shafa, laila dan syahrul mengikuti rute yang diberi tahu devi. ponsel shafa kembali berdering "mbak, maaf saya gak bisa menemukan lokasi mbak. Kalo begitu mbak cancel saya saja, tidak apa-apa" shafa spontan kaget, ia teringat bahwa ia memang telah memesan gojek. "Pak,saya akan naik transjakarta saja ke lokasi,tapi bapak gak perlu saya cancel. Bapak pick up saja,biar tarifnya tetap jalan"
"Loh mbak, tapi gak bisa begitu. Mbak kan gak jadi penumpang saya, tapi mbak malah bayar"
"Saya serius pak tidak apa-apa"
"Wah mbak terimakasih ya mbak,saya mohon maaf"
"Iya pak"
Akhirnya tepat pukul 09:00 shafa, laila dan syahrul sampai ke lokasi.
Atmosfir yang sedari dulu shafa rindukan begitu terasa. Semangat yang dari dulu belum terealisasikan itu kian menari-nari  di atas kepalanya. Meski sebelumnya sedikit lelah dibuat kebingungan dengan sebuah nama halte.
Ponsel shafa pun kembali berdering..
"Mbak, ikhlas kan ya? Terimakasih banyak mbak, terimakasih. Saya ambil ya tarifnya. Mbak ikhlas ya?"
"Saya ikhlas pak."
Setidaknya, itu sebab yang membuat shafa kembali tersenyum di ahad pagi.

To be continue..

Rabu, 12 Juli 2017

ada hikmah dibalik kisah (part 1)

rehat sejenak.
setelah beberapa hari kebelakang disibukkan dengan beberapa permasalahan pekerja. sebenernya sih emang udah itu kewajibannya. hehehe
ternyata gak mudah ya. saat kita mau gak mau masuk ke dalam "hidup" orang lain dengan berbagai macam kisahnya. mulai dari yang sifatnya profesional sampe ke hal-hal yang sifatnya pribadi.
sebenernya memang dari dulu tertarik banget untuk ambil psikologi dan belajar dunia psikologi. tapi kayaknya rezekinya gak di situ. dan menjadi pendengar yang baik, pemberi masukan yang baik, dan pemetik hikmah yang baik dari segala kisah yang ada gak harus jadi psikolog atau ambil jurusan psikologi juga kok.
buktinya kayak sekarang ini.
hmmmm..
*enaknya sambil nyeruput ice choco blend* (dari kemaren pengen banget itu...hikshiks)
kita mulai bicara masalah pernikahan. entah kenapa belakangan ini topiknya lagi random banget. terutama soal yang satu ini. sempet bingung juga, bisa jadi temen curhat untuk masalah itu. wajar sih yaa..untuk usia-usia segini.. pasti topiknya musim nikah. dan yang masih single ? huaaa yang imannya gak kuat bisa baper maksimal.. hakhakhakhak..
dan yang udah nikah, topik nya bisa beda lagi, mulai beralih ke masalah keturunan. ada yang Allah kehendaki pasangan untuk segera momong anak dan ada yang Allah masih kasih waktu menunggu. setelah punya anak, topiknya pun berbeda lagi, mulai ke masalah ekonomi, keluarga besar dan lingkup lain yang makin meluas.
hhfff... dari sini bisa terlihat bahwa mungkin pernikahan bukan akhir dari romansa yang membuat pipi mu merah merona dan membuat senyummu merekah. bener-bener gak berhenti di situ.
pertama-tama, aku pengen ngebahas soal usia-usia genting "ingin menikah". sebenernya ini hanya sekedar share dari pengalaman yang didapat aja selama sebagai pendengar. sendirinya gimana ? hehe rahasia. :p
mungkin ada sedikit keresahan khususnya bagi wanita yang mulai menginjak usia seperempat abad ke atas bahkan yang sudah menuju kepala 3. keresahan akan apa? keresahan masih belum dipertemukan dengan pangeran berkuda besi atau berdelman (apadeh). atau mungkin ada lagi case sudah bertahun-tahun menjalani hubungan dan ketika usia sudah cukup mendukung untuk menikah, semua berhenti di tengah jalan dan tersadar kalo usia sudah berkepala 3.  belum lagi pertanyaan dari banyak pihak tentang "kapan menikah" dsb ? hhmm... sangat-sangat paham kondisi ini..
mungkin ada lagi keresahan tingkat baper maksimal, kenapa temen-temen banyak yang udah nikah dan aku belum ? usia segini mereka udah pada punya anak tapi aku belum. jaman sekarang yang lain udah pada posting foto berdua, sama anak dsb. cerita-cerita itu sering banget mampir ke telingaku, terpancar jelas dari binar mata mereka yang dibilang sedih iya, pengen iya, baper iya. sebenernya kita ada diposisi yang sama, saat ini kondisiku pun masih belum menikah apalagi punya anak. tapi.. untuk apa kita mengkhawatirkan masa depan yang sebenarnya Allah sudah atur dengan sangat-sangat rapi. kita hanya tinggal berprasangka baik, berikhtiar yang terbaik, berdoa yang terbaik. sambil melatih diri untuk menjadi lebih siap dan lebih baik.
bahkan kadang aku sampai pada satu tingkat menemukan orang yang sudah merasa hopeless karena usaha ta'arufnya gagal berkali-kali. aku cuma bisa pesan berkali-kali, bahwa Allah tau butul kesiapan kita untuk semua urusan keduniaan kita. jangan bersedih... ada hal lain yang bisa membuat kita lebih produktif. menjadi lebih bermanfaat untuk orang banyak. terutama mungkin untuk keluarga. yang boleh jadi, hal itu sulit kita lakukan saat kita menikah dan punya anak nanti.
keinginan dan semangat menikah itu wajar, dan harus tetap ada. tapi jangan lupa diiringi dengan prasangka baik, ikhtiar terbaik dan tentu menyiapkan diri sebaik-baiknya. karena cerita gak akan berhenti setelah menikah. sambil memperbaik semuanya,  bukan cuma ilmunya, finansialnya, tapi kesiapan fisiknya, dalam artian bagi yang cewek-cewek harus udah muali perawatan. heheh
so, masih banyak hal produktif lain yang bisa kita lakukan. jangan bersedih.
untuk part selanjutnya, kita sharing soal kehidupan setelah pernikahan ya. insyaAllah.


-diketik disela-sela istirahat kerja, ditemenin semangka sama pepaya-

Kamis, 22 Juni 2017

27

Gempulan asap polusi dan kemacetan kota jakarta rupanya tak menyurutkan langkah seorang gadis pemimpi. Cukuplah orang tua tau dan memberi restu kemana kaki ini melangkah.
Tas jinjing yang sudah dipersiapkan pada malam sebelumnya,tergopoh-gopoh aku bawa berlari menuruni tangga shelter transjakarta yang cukup panjang. Waktu sudah menunjukan pukul 06:55 wib menuju doa pagi bersama tepat pukul 07:00 wib. Untunglah...pagi itu aku tidak bablas kelewat tidur lagi hingga shelter selanjutnya.
Aku berlari secepat mungkin dalam waktu yang amat tersebut,berharap pintu masih belum terkunci.
"Tunggu" teriak ku berlari. Seorang satpam gagah membuka pintu dengan senyum renyah seraya berkata "untung kita punya chemistry,sebentar lagi dikunci. "
Kali itu dipandanganku dia sangat baik, lain cerita jika di situasi yang berbeda gombalan terlontar darinya. Mungkin akan aku persembahkan senyum paling nyinyir.
Pagi itu aku harus menyampaikan beberapa hal, tak lucu rasanya jika aku telat. Meski dengan wajah polos tanpa bedak dan lipstik,aku merasa lega aku bisa hadir di tengah-tengah mereka.
Sehari berlalu begitu cepat. Lelah kian menjadi-jadi. Waktu menunjukkan pukul 19:15. Sejam sudah aku menunggu ojek online yang entah mengapa malam itu sulit sekali di dapat. Tas jinjing berisikan pakaian ku letakan disudut bangku dipinggir jalan. Mataku masih lekat memerhatikan ponsel yang bertuliskan " is finding driver nearest to you"
Akhirnya dapat! Dan seketika ponsel ku mati karna lowbat. Dan saat ku nyalakan kembali,yang ada hanyalah "Was cancelled" yang tandanya aku harus mencari ulang driver.
Aku harus naik apa. Fikir ku saat itu.
"Kamu sudah dimana? Tempatnya sudah penuh sekali, khawatir kamu tidak dapat tempat"
Salah seorang panitia mengabarkan.
Ah bagaimanapun aku harus sampai ke tempat itu. Lalu 15 menit kemudian "we found you a driver!"
Derap langkah kian cepat.. Berlari-lari kecil melewati parkiran motor yang sudah penuh. Aku sampai tepat pukul 20:15 wib. Entah mengapa, lagi-lagi aku merasakan hal yang tak biasa.
Aku bisa dapat tempat, meski tak ada satu orang pun yang ku kenali.

Lalu sampai pada suatu momen aku berfikir, mengapa aku bisa senekat ini. Menghampiri zona yang diawal sempat membuat merasa tak nyaman.
Tapi serasa ada keinginan besar disana. Rasa rindu.
Ada rasa yang tak bisa dijelaskan malam itu, rasa syukur yang teramat luar biasa. Diiringi rasa yakin akan suatu hal yang kian bertambah sekaligus membuat hatimu ingin menangis sejadi-jadinya.
Dan aku hanya berharap, perasaan ini bertahan hingga akhir.
Sejenak aku berfikir, begitu banyak serpihan kebaikan yang Allah tebar. Tinggal kita-atas seizinNya yang ingin memungut serpihan itu atau tidak.
Ada suara berbisik lirih, semoga Allah berikan keberkahan untuk segala prosesnya.
..........

Selasa, 20 Juni 2017

Rasa yang tercukupi

Seorang gadis yang sangat tau betul bahwa keberadaannya di dunia ini tak kan lama lagi.
Bukankah semuanya begitu?
Setiap hari yang kita lalui hanya usaha menjemput kepulangan kita sendiri, bukan?
Senyum prasangka baik masih coba dipertahankan.
Kepada apapun, siapapun.
Menyerahkan segala urusan kepada sebaik-baik penjaga dan penentu.
Wahai Rabb ku... Aku hanya ingin menjemput ketenangan di dunia ini. Membawa kebahagiaan di sana kelak.
Aku titipkan segala kekhawatiranku kepada Mu.
Kekhawatiranku pada orang-orang yang ku sayangi. Pada orang-orang yang kupercayai. Pada orang yang ku titipkan hati ini padanya.
aku tak ingin memikirkan lagi jika mereka berbohong, jika kelak berkhianat, jika kelak meninggalkan. Aku hanya ingin menjadi sebaik-baik pemberi senyum terbaik. Untuk tetap berbaik sangka.
Karna toh kita nantinya akan kembali jua kan?

Sabtu, 17 Juni 2017

23

Seperti rumah sendiri.
Gimana bisa? Entah. Mungkin sudah mendarah daging terbiasa berpergian sendiri. Ya, kalo sudah mau, ga akan ada yang bisa menghalangi. Mungkin kira-kira begitu.
Meski diawali rintik hujan yang sebenernya lumayan deras selama perjalanan semalam, tanpa jas hujan. (Di sini sebenernya kecewa sama abang gojek,yang ga nyiapin jas hujan untuk penumpangnya,jadi doi doang yang pake jas ujan) sambil berdoa, "please hujannya dipending dulu kalo udah sampe".. Cuma bermodal helm, kurang lebih sejam perjalanan ditempuh. Macet? Iya, lagi banyak bazar ramadan di pinggir jalan. Masker yang dipake pun basah kuyup kena terpaan air ujan. Setelah sampe, dan hujan udah mulai reda, langsung bingung gitu,baju sama sekali gak basah ! Ga ada yang basah! Kok bisa? Entah.
Cuma berdoa sepanjang perjalanan, "Ya Allah..ridho in ya perjalanannya, gak enak sampe sana nanti kuyup. " sambil sesekali merem istighfar ngilu ngeliat jalanannya yang licin dan motornya yang ngebut.
Setibanya, ngerasa gak sendiri aja. Ada 2 orang ibu yang perhatian, yang ini ga usah diceritain deh. ^^
Disamping rasa kantuk yang mulai menghampiri, teringat ql yang begitu syahdu hingga membuat hati bergetar seketika, yang membuat air mata mengucur deras bener-bener gak bisa dibendung,kenapa ya, padahal sama sekali belum tau maknanya,akhirnya rasa penasaran muncul, rupanya tadi, ada di QS al an'am :27-40...

Diketik saat seketika pengen banget buah pir ijo dan belimbing.
Al hikmah, 04:19 wib

Kamis, 15 Juni 2017

10 days left..

satu hal lagi yang membuatku takut kali ini, adalah aku tak bisa lagi merasakan nikmatnya bermunajat / beribadah kepadaNya.
Bukankah hal itu yang semestinya harus ditakutkan? Semakin berlalu sehari,semakin bertambahnya usia, tapi bagaimana jika tak menambah kedekatan dengan sang maha pencipta?
Ah... Setiap orang memiliki style nya masing-masing. Mau dia kalem, cuek, gaul, pemalu dsb, siapapun harus takut pabila rasa nikmat beribadah kepadaNya dicabut,..
Semua harus takut pabila lisan seolah kelu dalam mengharap segala kepadaNya.
Dan rasa nikmat itu, bisa kita gapai dengan terus berkumpul dan dekat pada orang-orang yang mendekat padaNya.
Mungkin... Mereka adalah orang-orang yang beruntung, karena mau menggapai kenikmatan tsb, dan aku, hanya berharap semoga kenikmatan itu terus ada, seakan enggan untuk berpisah. Dan tentu, tanpa tau, pada kapan, pada saat bagaimana kita akan menghadapNya.

Diketik saat sedang ngantuk maksimal, tapi ga mengurangi kesyahduannya.
Al hikmah- 03:20 wib.

Minggu, 28 Mei 2017

Sungai kecil di wajah mungil

Derap langkah semakin tak beraturan. Malam makin terasa dingin menerpa kulit yang telah terbalut rapi oleh sweater merah marun. Siapa sangka, ponsel mini di tangan ku berhasil kembali menciptakan air mata. tanpa sengaja kembali mengusik ku dengan kisah-kisah yang rupanya tak pernah kuketahui dan tak ingin ku tau. Kendaraan masih bersemangat lalu lalang di malam itu. Hiasan lampu jalanan justru membuat pandanganku bertambah kabur terhalang air mata yang ingin tumpah.
Dalam keadaan yang teramat jujur, ditambah lantunan ayat-ayat suci yang menghiasi angkasa malam itu, aku semakin terjerat akan harap ku sendiri. Bak tersambar kilat
kisah masa lalu yang menjebak langkah masa depan.
Inilah puncak dari segala harap ku pada sang penguasa hati. Air mata yang makin deras mengalir, dipaksa hiasan senyum yang berusaha mengelabuinya, ah ternyata tak mampu. Baiklah, ku harus menunggu beberapa jam, untuk bercengkrama mesra denganNya setiba di rumah. Dalam senyap. Dalam gelap. ---
Aku datang menemuiNya, mengadukan segala harap dan resah, untuk sebuah keputusan. Atau mungkin keputusasaan yang tiba-tiba melesat cepat menghampiri.
kali ini aku tak kan malu, tak kan berusaha menutupi air mata yang ingin deras mengalir. dalam keadaan yang sepenuhnya pasrah menjalani kehendakNya.
ku pejam mataku untuk beberapa saat,seolah aku hanya ingin seperti itu. lalu lambat laun menghilang, berpisah dengan segala yang ada di dunia.
gelap. dengan air mata yang kian deras mengalir.
lalu suara lembut menghampiriku, ku hanya ingin terus terpejam. mendengar baik-baik suara yang datang. suara yang boleh jadi, dari hati kecil ku sendiri.
"bahwa Allah selalu menyelipkan hikmah dari segala cerita yang diberikanNya. meski bertahun-tahun dari awal pertemuan yang tanpa dihiasi kata dan perkenalan. meski sempat berada jauh terpisah ribuan kilometer berbeda siang dan malam, dan tentu.. dengan segala kisah masa lalu yang saling dimiliki. Allah kehendaki untuk bertemu dalam satu waktu, satu cerita, satu kesempatan di masa sekarang. bahkan boleh jadi, tanpa tersadar tercipta balok-balok harap masa depan yang perlahan-lahan ingin dibangun bersama. bukankah itu adalah bagian dari skenarioNya? sedangkan yang kau ketahui bahwa masa depan bisa tercipta dari masa lalu yang tak kan pernah bisa kau kembali kepadanya lagi."
suara yang perlahan mulai hilang menjauhi. air mataku semakin tak mampu ku bendung.
aku benar-benar tak bisa.. aku benar-benar tak mampu menopangnya sendiri.
untuk segala kisah masa lalunya, yang entah mengapa masih menyayat hati.
aku menyerahkan sekeping hatiku padaNya. akan rasa takut yang mengintai bahwa aku hanya akan dijadikan masa lalunya yang kesekian dengan alur cerita yang sama persis dengan sebelum-sebelumnya. sama persis dengan noktah rasa yang sebelum-sebelumnya. sama persis dengan perjalanan-perjalanannya sebelum aku.
aku kembali teringat wajah ibu dan ayah, yang rindu akan sosok pendamping yang mampu menjaga dan menjadi teman masa depan putri kecilnya.
aku harus bilang apa, aku harus bagaimana. cerita-cerita baik yang telah ku utarakan kepada mereka,membuat senyum merekah tercipta.
ini adalah ikhtiarku yang terakhir kali, aku menyerahkan sekeping hati ini kepada pemilikNya. dengan segala kerelaan yang ku punya. bukan lagi karena cinta ataupun tahta. tapi hanya demi mengharap ridhoNya dan ridho kedua orangtua. karena Ia juga pasti akan membuat hatiku lebih kokoh menopang segala cerita yang pernah singgah pada ia yang memang ditakdirkan bersama..

Selasa, 09 Mei 2017

Semua asa

Waktu mulai menunjukan pukul 21:15 .. Rupanya ibu kota masih bersemangat menemani warganya beraktifitas. Aku sudah tidak bisa merasakan lagi bagaimana rasa lelah dari segala aktivitas hari ini. Dari balik kaca bus yang aku tumpangi, bergelayut sejumlah asa yang masih menari-nari riang di atas kepala. Sejumlah hal yang memang harus menjadi perhatian ku saat ini. Meyla yang sedari awal selalu bersemangat menjodohkanku dengan pilihannya, kali ini ia mulai memberikan pertanyaan yang membuatku tak berkutik. "Kapan kamu akan meresmikannya dengan pilihan mu itu?" dengan nada kesal ia tak memberikanku ruang sedikitpun untuk mengelak. Pantas saja ia kesal, untuk kesekian kali tawarannya selalu ku balas dengan senyuman dan dengan kata-kata "insyaAllah sudah ada pilihannya sendiri."
Meyla yang masih tak mau menyerah, masih menghujaniku dengan pertanyaan yang sama. Ia memaksa ingin tahu seperti apa pilihanku, dan masih berusaha meyakinkanku atas pilihannya. "InsyaAllah dalam waktu dekat, jika Allah berkehendak." jawaban yang membuat meyla seketika menyerah untuk kembali bertanya.
"Aku hanya ingin memberikan sesuatu hal yang pasti untukmu." tambahnya.
Suasana malam kala itu, rupanya dibanjiri air mata yang tak ku sadari. Hanya kepadaNya lah ku serahkan segala urusanku. Mengenai hidup dan matiku. Tangisan yang bukan bermakna kesedihan, tapi keyakinan yang teramat kuat bahwa Allah akan mempersembahkan yang terbaik. Untuk sebuah keyakinan yang masih tersimpan rapi hingga harinya nanti. Dan teruntuk meyla yang teramat perduli, aku hanya ingin menyampaikan, izinkan aku untuk tetap kokoh pada rasa yakin yang ku miliki, meski ada rindu dan harap yang tersembunyi. Tapi setidaknya aku masih miliki doa. Dan mungkin nanti, keberanianku untuk berbicara.

Minggu, 07 Mei 2017

Di atas sajadah

Selalu ada yang disenangi dalam kegelapan dan kesenyapan itu. Disaat bisa meluapkan segala keluh kesah yang memenuhi ruang hati.
Engkau sangat tau, sudah di titik mana seorang hamba telah berpegang teguh pada janji.
ia yang sudah benar-benar merasa cukup. Merasakan petualangan hati yang tak berujung. Merasakan indahnya sejenak. Sadar bahwa betapa indah segala pesan yang telah dibawa oleh orang-orang terdahulu.
Mungkin ia sudah sampai pada titik, yakni mencintai dan hanya ingin mengejar keridhoan Rabbnya..
Sebagaimana janji.. Di atas sajadah kala itu...


Perjanjian suci maha agung..

Bahwa mata akan tetap memandang sejauh yang ia inginkan.
Bahwa hati akan tetap berangan sesering yang ia kehendekaki.
Dan pernikahan, adalah saat yang tepat untuk berhenti membandingkan. Ia melengkapi. Ia perjanjian suci maha Agung....
.
.
.
.
.
Betapa menyejukkannya, saat kita merasa tercukupi dengan apa-apa yang telah dimiliki. Sungguh benar, bahwa pernikahan bukanlah pencapaian dari proses pengenalan. Tapi ia adalah proses pengenalan yang tanpa henti, tanpa ujung. Lalu apa yang menjadi acuan untuk melangkahkan kaki menujunya? Saat kita ridha pada akhlak dan agamanya. Dan tentu, keinginan untuk terus me jadi lebih baik.
Barakallah...




Terimakasih sudah dan tetaplah (menjadi baik)

Terimakasih sudah dan tetaplah (menjadi baik)~
...........................
Sungai kecil di pipi itu, nyatanya sudah enggan menjelaskan kesedihan.. setelah memasuki duniamu secara nyata ketika malam, ia berubah menjadi genangan haru yang dalam. 
Memikirkan seluruh proses perjuanganmu untuk menjadi kesayangan Sang Maha Cinta.
Lalu apakah akan ada lagi kesedihan? Keraguan yang timbul, dan pengharapan yang terputus? Sungai kecil di pipi yang telah menjelma menjadi genangan haru yang dalam, selalu datang di setiap keheningan, saat malam. saat banyak yang terlelap dalam mimpi indah. lalu suara berbisik lirih agar kelak menjadi pantas. Menitipkan pada semesta untuk sebuah harapan yang tak henti, hingga mampu menggemakan rasa yang tak sederhana. Terimakasih sudah dan tetaplah (menjadi baik).
.
.
.
.
.
#raina
#bagiandalamhalaman
#dandelionIsMe

Kamis, 04 Mei 2017

Gadis berkaca-kaca

Beberapa waktu terakhir yang menyamarkan makna senyuman.
Bahkan ia terlupa apa makna senyuman yang sesungguhnya.
Ia ingin sekali jujur. Bahwa ia tak pernah benar-benar ingin tersenyum.

Senin, 01 Mei 2017

Engkau, seuntai Doa.

Hujan kali ini memberikan kesan beda dari sebelumnya. Ia masih begitu deras, masih ku senangi, masih menjadi hal yang aku sukai. Tapi setiap tetes yang jatuh ke bumi, rupanya memberiku rasa cemas yang luar biasa. Aku pun mengambil jeda, memikirkan apa hikmah dibalik semua. Dua hal yang ada difikiran ku saat itu: pertama, mungkin Allah ingin menguji sejauh mana aku hanya berharap padaNya. Tidak menggantungkan harapan kepada manusia lain untuk kedua kali.
Kedua, mungkin Allah ingin menguji kesungguhan dan keyakinan ku untuk tetap bertahan hanya pada hal yang Ia Ridhai.
Wahai Engkau, seuntai doa yang sudah lama ku gemakan di relung hati. Jika itu engkau, apakah saat ini kita bertemu terlalu cepat ?
Mampukah kita untuk tetap sama-sama berpegang teguh pada 2 hal yang ku sebutkan tadi?
Mampukah kita untuk sama-sama tetap menggantungkan segala harap hanya kepadaNya? Mampukah kita untuk sama-sama bersungguh dan yakin hanya akan bertahan kepada hal yang Ia Ridhai ?
Wahai Engkau, seuntai doa yang sudah lama ku gemakan di relung hati. Jika itu engkau, bolehkah aku mengutarakan ceritaku ? Aku lelah sekali dengan hingar bingar dunia yang penuh drama. Aku takut sekali melewatkan sisa waktu ku tanpa kebermanfaatan. Aku teramat lelah dan takut sekali. Lalu, mampukah Engkau bersamaku nanti untuk berpegang teguh pada ketenangan hati ? Ohya... Aku juga bukan orang yang sempurna lahirnya.. Aku sering mendapati beberapa teman yang sudah lebih dulu menikah, kini penampilan keseharian mereka terlihat berbeda. Alis mereka yang diukir tebal, bola mata yang dibalut softlens berwarna, wajah putih yang begitu licin, teramat sangat membuat mereka cantik. Katanya, sebagai bentuk pengabdian mereka kepada pasangannya. Agar tetap terlihat cantik. Hhmm.. Tapi maaf,kelak bolehkah aku tidak seperti itu? Bolehkah aku tetap begini ? Tenang saja, alisku tidak gundul. Bola mataku warnanya hitam. Kulitku tidak terlalu putih bahkan kadang berminyak..
Kau tidak perlu mengerutkan dahi seperti itu ya..:)
Dan mungkin, selama kita masih mengarungi kehidupan dunia, ketaksempurnaan akan selalu kita dapati. Tapi maukah untuk sama-sama berjanji? Bahwa kita akan sama-sama mengejar ridhaNya?
Wahai Engkau, seuntai doa yang sudah lama ku gemakan di relung hati. Aku bercerita lagi ya, aku hanya memiliki visi misi bersamamu di dunia hingga jannahNya, bisakah kita mencari kuncinya bersama ?
Dan jika Allah berkehendak menyampaikan kita pada satu waktu itu, ku harap hanya ada RidhaNya dari setiap proses menunggu.
Hanya kepadaNya kita saling berharap. Dan hanya demi ridhaNya kita selalu bertahan.

Rabu, 26 April 2017

PERMULAAN PALING PAGI

Telah sampai di permulaan paling pagi. dan air mata itu berlinang lagi.
Yaa Rahman... yang hanya memberi meski aku tak meminta. yang selalu memberi meski aku sering terlupa. Dan yang akan terus memberi segala kasih sayangNya.
air mata itu masih sesekali berlinang. sebenarnya siapa yang salah dan patut disalahkan ? ia yang menjadi sebab atau aku yang kurang berlapang ?
yaa Rahman....angkat segala rasa kurang berlapang di dada ini. atas semua kisah masa lalu, milik ku atau miliknya.
angkat segala rasa kurang berlapang di dada ini. atas segala cinta yang pernah hinggap pada diri ini atau dirinya. angkat segala rasa kurang berlapang di dada ini, untuk segala kecewa yang pernah menghampiri.
yaa Rahman... jika setiap skenario telah tersusun rapi di sana, dari permulaan hingga akhirnya. betapapun rasa sakit yang pernah ada, sejauh apa proses yang harus dilewati, mampukan dan sampaikan aku pada akhir yang Engkau Ridhai.

Minggu, 02 April 2017

K.E.T.E.N.A.N.G.AN


Kita bukanlah siapa-siapa saat segala hal tidak digantungkan kepada Allah yang maha segala.
Mengapa masih belum menikah ? Kok belum nikah? Kapan nikah ? Sebenernya ini bukan pertanyaan yang mengganggu. Serius :)
Tapi justru memunculkan pertanyaan balik, apa alasan memutuskan menikah kepada mereka yang sudah menikah ?
Jawabannya beragam. Ada yang bilang udah ngerasa cocok. Udah lama pacaran. Karna cinta. Kara sayang. Bahkan ada yang bilang karna dijodohin :) Dsb.. Dsb..

Dari sekian pertanyaan serupa yang datang...inilah jawaban yang selalu dibalas dengan senyuman.. :)"
" kehidupan di dunia tidaklah lama. Akan kita temui masa kita ditinggalkan atau kita yang meninggalkan. Pada saat-saat itulah, kita membutuhkan teman untuk sama-sama berjuang. Mengarungi samudera kehidupan dunia sesadar-sadarnya sebagai manusia. Sebagai seorang hamba Tuhan. Yang sama-sama saling memberi ketenangan untuk tidak mengkhawatirkan kehidupan dunia. Dan memberi ketenangan untuk kehidupan di akhirat. Bersamanya ialah proses perbaikan
sepanjang jaman. Dunia ini penuh sandiwara bukan? Penuh tipu daya dengan segala perhiasannya. Semoga Allah selalu memberi hidayah kepada hati yang selalu ingin memperbaiki. Menghadirkan teman dalam mahligai pernikahan untuk sama-sama saling memperbaiki."

Makanya, doakan saja yang terbaik :)


Sabtu, 11 Februari 2017



W.A.N.I.T.A


Tertegun, betapa maha besar Allah yang menitipkan ruh pada rahim seorang wanita.
Memberikan kekuatan padanya untuk mendidik anak hingga ke liang lahatnya.
Merekalah para ibu, dan para wanita calon ibu.
Betapa Allah meninggikan drajatnya hingga syurga berada di bawah telapak kakinya.
Sadarkah betapa istimewanya wanita ?

Jikalau begitu,
Apalagi selain memperbaiki akhlak dari hari kehari ? Menjaga lisan dan perbuatan, menjaga hati dan pikiran ?
Apalagi selain berusaha menjadi panutan yang baik bagi anak-anak?
Gelar ibu, bukan berarti menghambat keleluasaan. Tapi gelar ibu, menjadi pengingat bagi diri bahwa kita dititipi manusia lain yang melekat padanya hak dan kewajiban.

*begitu merindukan gelar itu, kelak pabila Allah mempertemukan dengan masa yang tepat.

Sabtu, 24 September 2016

Keinginan harus selalu dipupuk.

Just share cerita hari ini yang worth it banget untuk dijadiin pedoman untuk kamu kamu yang masih berjuang to get scholarship overseas..
Siang tadi saat berkunjung ke kampus tersayang, ketemu ibu salah satu staf kemahasiswaan di sana, alhamdulillah beliau masih inget wajah polos dan imut-imut ini.

Perbincangan terus mengalir.. Entah mengapa sampai pada kata "sebuah keinginan itu benar harus selalu dipupuk"... Sahutnya. berbicara mengenai study or get scholarship overseas tentu kadang semacam "anget-anget ... Ayam" atau semacam kue cubit yang kadang mateng, kadang setengah mateng" **haduh perumpamaannya ga oke banget ya!
Intinya kadang semangat itu begitu menggelora pun kadang sebaliknya. Itu wajar, sangat manusiawi. Tapi pointnya jangan pernah hilangkan sebuah keinginan. lalu kita fokus kepada kisah salah satu dosen yang menginjak kepala 4 baru bisa menginjakkan kaki dan belajar di bumi Prancis! Tapi kenapa banyak orang yang masih kepala 2 atau 3 yang udah hopeless untuk lanjut study overseas ?! kenapa ?

Ibu staff yang semula ku kenal tegas itu, tadi siang berbicara begitu hangatnya. Dalam beberapa menit kami berhasil menciptakan bara-bara semangat akan keajaiban sebuah usaha dan doa. pembicaraan akan masa depan gemilang yang menjadi hak setiap orang. mengungkit kisah orang-orang sukses, dengan mata berbinar tersirat pesan darinya bahwa keinginan harus selalu dipupuk.

Boleh jadi saat dalam situasi down, berusaha sana sini, ingin menyerah, mengambil jalan aman, yang katanya berfikir rasional aja deh sekarang, one of my prof said that, your chance to make the decision for your future, is right now.

Kenapa melanjutkan study? Dan kenapa harus overseas ?

Banyak orang yang getol banget usaha study overseas. ga bisa dipungkiri salah satu motifnya mungkin adalah ingin dapat mengabadikan langsung keindahan yang ada di sana. Apapun motifnya, setiap orang berbeda. Tapi masalahnya sekarang adalah mengapa study overseas bagi sebagian yang lain adalah hal yang sangat mudah di dapat? Dengan mengeluarkan uang pribadi, selesai. Tapi bagi sebagian yang lain mengapa sampai ada yang jatuh bangun ikut beasiswa sana sini, belajar, berusaha hanya untuk sebuah scholarship overseas ? menurut mu? silahkan koment.

Sabtu, 17 September 2016

Gaun peach...


Maha Suci Allah yang telah menciptakan bermacam rasa bagi kehidupan dunia..
Tanpa henti puja-puja kepadaNya,..
Adakah sesuatu yang dirasakan indah tanpa dengan melibatkanNya ?

Midnight, tetiba inget sama salah satu pertanyaan sahabati.. "Apa yang membuatmu mantab?" Ya dengan sedikit sensor, kira-kira pertanyaannya seperti itu.. Hehe

Aku hanya teringat, gaun lucu berwarna peach yang pernah ku kenakan saat usiaku kisaran 4-6 tahun, hhmmm entah persisnya umurku berapa saat itu,tapi ingatanku sudah cukup peka. Gaun indah yang ku kenakan di pesta pernikahan om ku, beberapa hal yang ku ingat saat itu, "banyak makanan, gaun peach yang bernoda buah semangka, ibu-ibu dan bapak-bapak yang ramai berkumpul"..

Entah... Dari sekian banyak kenangan masa kecil, kenangan pesta pernikahan menjadi begitu melekat di benak ku.
Jelas aku tidak paham situasi pada saat itu. Sekian belas tahun berlalu, om ku yang dulu itu, kini sudah beranak 3.
Foto pernikahan masa silam masih terpajang di sudut dinding, hey.. Ada gadis mungil bergaun peach di sana ;)

"Apa yang membuatmu mantab?".. Pertanyaan sahabati malam itu,
Aku telah hampir tiba pada masa ini, masa belasan tahun silam gadis mungil bergaun peach bernoda buah semangka.


"Apa yang membuatmu mantab?".. Pertanyaan sahabati malam itu,
Dia telah mengatur dengan sangat apik segala skenario dan segala rahasia. Melewatkan cerita semu yang kian berlalu. Berprasangka baik untuk setiap jejak kaki dan hela nafas yang masih ada. Menguatkan asa dalam menapaki masa yang nyata.


"Apa yang membuatmu mantab?".. Pertanyaan sahabati malam itu,
Ku menitipkan segala duka dan bahagia di genggamanNya. ku berserah akan takdir yang digariskanNya. ku memilihNya sebagai perancang kisah cerita terbaik. Ku ingin melibatkanNya dalam setiap celah yang tak terlihat mata manapun.


"Apa yang membuatmu mantab?".. Pertanyaan sahabati malam itu.
Semoga Ia terus mencurahkan sejuknya rasa penuh harap hanya kepadaNya.
Karena Ia, maha tau.

#Backsound: menikahimu-kahitna



Senin, 12 September 2016

Melepas Rasa...

Di bulan ini, kita kembali diingatkan pada sebuah kisah luar biasa tentang keimanan, kesabaran dan kepatuhan seorang Nabi Ibrahim as. Bahwa tidak ada satupun yang benar-benar dimiliki, melainkan dititipi.

Begitupun halnya untuk setiap fase dalam kehidupan yang terjadi, begitu banyak hal yang Ia titipi. Berkorban, adalah soal jalan yang dipilih.
Sebagai wujud kecintaan pada Ilahi. Melepas remah-remah cinta masa lalu yang pasti pernah ada pada setiap diri, yang boleh jadi melenakan bahkan menjauhkan dari cintaNya. Berharap kepada selainNya. Membangun angan-angan tanpa melibatkanNya. Dan lagi-lagi tak ada yang hakikatnya sungguh dimiliki, tapi semua hanyalah dititipi. Berkorban, adalah soal jalan yang dipilih. Melepas rasa yang tak lagi menghantarkan pada penambahan cinta pada Ilahi, yang sungguh jauh untuk dibawa ke dalam ikatan perjanjian yang suci.
Melepas rasa memiliki dan merasa paling berhak. Jerih payah yang diusahakan, sekalipun sudah berhasil digenggaman bukan berarti berpindah milik. Jabatan, harta, orang-orang terkasih, bahkan mungkin anak yang selama ini diusahakan,dirawat sepenuh hati dalam kandungan, namun pabila yang memilikinya meminta kembali, adalah mutlak kuasaNya.
Maka lepaskanlah...
Pun diri kita, bukanlah milik kita.
Renungan yang sungguh luar biasa dari kisah nabi Ibrahim as, betapa Allah menggantikan dengan hal yang lebih baik sebagai buah dari keimanan, ketaatan, kesabaran juga keikhlasan.

#refleksiIdulAdha1437H